Resensi Novel “The Fault In Our Stars by John Green”

Putri Jayantia Indarti/15212767

3EA19

tfios

Judul: The Fault In Our Stars

Penulis: John Green

Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno

Penyunting: Prisca Primasari

Proofreader: Yunni Yuliana M.

Desainer sampul: BLUEgarden

Penerbit: Qanita

Terbit: Cetakan I, Desember 2012

Tebal: 424 halaman

Sinopsis

Novel The Fault In Our Stars ini menceritakan tentang dua remaja yang mengidap kanker dan saling saling jatuh cinta sejak pertama kali bertemu di kelompok pendukung, Hazel Grace dan Augustus Waters.
Hazel Grace adalah remaja berumur 16 tahun yang mengidap kanker tiroid. Sejak usia ke 13 Hazel sudah didiagnosis kanker teroid stadium IV karena berkat bantuan obat yang bernama Phalanxifor Hazel bisa bertahan hingga umur 16. Karena kanker, Hazel harus menggunakan tabung oksigen portabel untuk bernapas dengan baik
Hazel harus pergi ke kelompok pendukung dengan paksaan ibunya. Padahal Hazel malas sekali. Tapi kelompok pendukung itu tidak buruk-buruk amat. Di sana Hazel bertemu dengan laki-laki bernama Augustus Waters yang menderita osteosarkoma dan mengakibatkan satu kakinya harus diamputasi. Augustus ada di sana atas permintaan temannya, Isaac. Isaac memiliki tumor di salah satu matanya yang harus dioperasi, sehingga membuatnya buta. Setelah pertemuan berakhir, Augustus melakukan pendekatan dengan Hazel dan mengatakan bahwa dia tampak seperti Natalie Portman di V for Vendetta.
Hazel dan Augustus setuju untuk saling membaca novel favorit satu sama lain. Augustus meminjamkan Hazel novel berjudul The Price of Dawn (Ganjaran Fajar), dan Hazel merekomendasikan novel berjudul An Imperial Affliction (Kemalangan Luar Biasa). Semeninggu setelah itu, Augustus berhasil melacak keberadaan asisten Van Houten, Lidewij. Dan dari Lidewij, Augustus berhasil mengirimi email. Dia memberitahu isi email Van Houten kepada Hazel dan Hazel membuat suatu daftar pertanyaan untuk dikirimkan kepada Van Houten. Van Houten akhirnya menjawab, tetapi dia mengatakan tidak bisa menjawab pertanyaa Hazel secara pribadi di email. Dan jika Hazel pergi ke Amsterdam, dia mengundangnya untuk mampir di rumah Van Houten. Tapi dia tidak bisa karena ibunya tidak punya cukup banyak uang untuk pergi ke Amsterdam. Hazel menceritakan tentang isi balasan email itu pada Augustus. Dan Augustus mewujudkan keinginannya melalui organisasi bernama Yayasan Peri, yang kerjanya mewujudkan satu keinginan anak sakit.
Di tengah perjuangannya atas apa yang harus dilakukannya tentang Augustus, Hazel tiba-tiba mendapat kasus serius di mana paru-parunya dipenuhi cairan dan dia terpaksa dibawa ke ICU. Semenjak itu beberapa dokter Hazel tidak menyarankan dia untuk pergi ke Amsterdam, bagaimanapun juga Hazel tidak terlalu cukup sehat untuk melakukan perjalanan itu. Tapi disisi lain Dr. Maria mengijinkan Hazel untuk pergi ke Amsterdam karena menurutnya Hazel perlu bersenang-senang.
Perjalanan mereka cukup lancar untuk pergi ke Amsterdam. Tapi ketika Hazel dan Augustus bertemu Van Houten mereka baru mengetahui bahwa, Van Houten bukan seorang penulis produktif yang jenius, melainkan seorang pemabuk yang kejam dan mengaku tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Hazel. Keduanya sangat kecewa, terutama Hazel yang sudah memakai permintaan Augustus. Tapi perjalanan mereka cukup menakjubkan. Setelah keluar dari rumah Van Houten, Lidewij mengajak mereka untuk berkunjung ke rumah Anne Frank. Awalnya Hazel tidak mau, karena dia ingin pergi bersama Van Houten, tapi ternyata Van Houten tidak diundang, dan mereka pergi ke rumah Anne Frank. Sayang sekali di sana sama sekali tidak ada lift, hanya ada tangga. Tapi Hazel bersikeras akan melanjutkannya sampai ke atas. Dan mereka berhasil, meskipun Hazel sedikit lelah.
Sebulan setelah perjalanan ke Amsterdam, Hazel dibangunkan oleh ponselnya dengan lagunya The Hectic Glow. Artinya Augustus meneleponnya atau seseorang menelpon dari ponselnya. Dan ternyata Augustus yang menelponnya. Dia menyuruh Hazel untuk ke jalur cepat di Eighty-sixth and Ditch, dan memintanya untuk membetulkan selang-G-nya yang keliru. Hazel akhirnya menelpon 911 untuk membawanya ke rumah sakit.
Augustus pulang dari rumah sakit beberapa hari kemudian. Augustus menyuruh Hazel untuk segera ke Jantung Harifiah Yesus. Untuk mendatangi pra-pemakanan dan membacakan pidato untuk Augustus. Augustus Waters meninggal delapan hari setelah pra-pemakanannya, ketika kankernya yang merupakan bagian dari dirinya, akhirnya menghentikan jantungnya.

Tokoh dan Penokohan
1. Hazel Grace adalah perempuan berusia 16 tahun yang cantik, yang harus selalu membawa tangki oksigen kemanapun dia pergi untuk membantu pernapasannya.
2. Augustus Waters adalah laki-laki berusia 17 tahun yang ganteng, tubuhnya jangkung dan kurus berotot.
3. Isaac adalah laki-laki berkacamata yang berusia 17 tahun.
4. Peter Van Houten adalah lelaki berperut buncit dengan rambut tipis, pipi bergelambir, janggut dan pemabuk.

Tema
Percintaan, persahabatan dan perjuangan.

Latar Belakang
Tempat :
– Rumah Kelompok Pendukung.
– Rumah Peter Van Houten.
– Rumah Anne Frank.
Waktu : Pagi hingga malam.
Suasana : Mengharukan, lucu, menegangkan.

Alur Cerita
Novel ini menggunakan alur cerita maju mundur.

Sudut Pandang
Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama sehingga pembacanya mudah mengerti dan dapat cepat memahami isinya yang ditulis oleh pengarang.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam penulisan novel sangat mudah dimengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s